TNGNEWS.ID – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Tangerang menggelar Hunting Foto & Sharing Session seputar fotografi jurnalistik. Antara lain, meningkatkan literasi fotografi jurnalistik sekaligus memperkenalkan perkembangan teknologi kamera digital.
Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan komunitas fotografi yang diselenggarakan di kedai Vroom Tampang, Kota Tangerang ini berlangsung selama dua hari, 11-12 Juli 2026.
Di hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai teknologi kamera mirrorless Canon EOS R dari PT Datascrip selaku distributor resmi Canon di Indonesia. Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan fotografi jurnalistik dari Redaktur Foto European Pressphoto Agency (EPA) Indonesia, Irham.
Ketua PFI Tangerang, Dery Ridwansah, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan komitmen organisasi dalam mencetak generasi muda yang memahami nilai dan etika fotografi jurnalistik.
“Kami berusaha memberikan edukasi terkait foto jurnalistik dengan menghadirkan para profesional di bidangnya. Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran sekaligus kapasitas mahasiswa dalam memahami dan menghasilkan karya foto jurnalistik yang berkualitas,” kata Dery dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan, PFI Tangerang secara konsisten menghadirkan program edukasi seperti PFI Goes to Campus, pameran foto, hingga pelatihan yang mempertemukan peserta dengan praktisi fotografi profesional.
Sementara itu, perwakilan Canon dari PT Datascrip, Adam, memaparkan perkembangan teknologi kamera mirrorless Canon EOS R serta pentingnya memilih kamera dan lensa sesuai kebutuhan pemotretan.
“Teknologi kamera saat ini berkembang sangat cepat. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan pemotretan sehingga dapat memilih kamera dan lensa yang tepat, baik untuk foto jurnalistik maupun kebutuhan fotografi lainnya,” ujarnya.
Dalam sesi foto jurnalistik, Chief European Pressphoto Agency (EPA) untuk wilayah Indonesia, Irham, menekankan, fotografi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, foto telah menjadi media utama untuk menyampaikan informasi kepada publik.
“Fotografi bukan sekadar menghasilkan gambar yang menarik, melainkan menjadi media yang menyampaikan informasi secara akurat, jujur, dan memiliki nilai berita,” papar dia.
Menurutnya, di era digital ketika hampir semua orang dapat menghasilkan foto yang baik secara teknis, pembeda seorang pewarta foto terletak pada kemampuan membaca peristiwa, melakukan riset, memahami konteks, serta menyusun narasi visual yang kuat melalui single photo maupun photo story.
Irham juga menekankan, kekuatan visual menjadi faktor penting di era media sosial. Namun, kualitas visual harus dibarengi dengan etika, akurasi, dan riset sebelum memotret agar foto yang dihasilkan tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memiliki makna jurnalistik.
“Saya meminta, sebelum melakukan hunting foto, seorang fotografer harus melakukan riset terlebih dahulu. Dengan memahami isu, lokasi, hingga karakter objek yang akan dipotret, fotografer akan lebih siap menghasilkan foto yang kuat secara visual maupun nilai jurnalistik,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Irham turut menampilkan sejumlah karya foto jurnalistik hasil liputannya dari berbagai daerah di Indonesia hingga penugasan internasional. Melalui karya-karya tersebut, peserta diajak memahami proses menemukan momen, membangun narasi visual, serta menjaga etika dalam praktik foto jurnalistik.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti sesi hunting bersama di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Dalam praktik lapangan tersebut, peserta mengaplikasikan materi yang telah diperoleh dengan pendampingan langsung dari para pewarta foto profesional.

