TNGNEWS.ID – Seorang santri asal Kabupaten Pandeglang menjadi korban pemerasan oleh oknum penagih utang atau mata elang (matel) di kawasan Citra Raya, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Kamis (13/8/2026) Malam.
Korban diduga dimintai uang hingga Rp2 juta setelah sepeda motornya dihentikan dan diperiksa sejumlah pria. Peristiwa itu terjadi ketika korban tengah dalam perjalanan dari Pandeglang menuju Citra Raya untuk menghadiri pemakaman anggota keluarganya.
Kerabat korban, Gobang, mengatakan kejadian bermula saat korban tiba di kawasan Citra Raya. Sepeda motor yang dikendarainya tiba-tiba dihentikan oleh sejumlah pria.
Kelompok tersebut kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan korban. Mereka disebut berdalih tengah mencari kendaraan yang bermasalah atau menunggak pembayaran.
Situasi semakin membuat korban tertekan karena saat itu tidak membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Kondisi tersebut kemudian diduga dimanfaatkan untuk meminta sejumlah uang.
“Dia diminta uang sama matel itu. Tadinya diminta dua juta, terus turun jadi satu juta, terus saja turun sampai ke 500 (ribu) rupiah,” ungkap Gobang, (13/8/26).
Menurut Gobang, korban kemudian dibawa ke sebuah kantor untuk melakukan negosiasi. Permintaan uang tersebut akhirnya turun menjadi Rp500 ribu.
Di tengah kondisi tersebut, korban juga tengah terburu-buru karena harus menghadiri pemakaman anggota keluarganya. Karena tidak memiliki uang yang cukup, korban kemudian menghubungi rekan-rekannya sesama santri untuk meminta bantuan.
Setelah uang Rp500 ribu terkumpul, korban diminta melakukan transfer kepada salah satu pihak yang disebut sebagai oknum matel.
Transfer dilakukan dua kali, masing-masing sebesar Rp200 ribu dan Rp300 ribu.
Setelah uang tersebut masuk, korban kemudian diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Ia selanjutnya menghubungi keluarga dan menceritakan kejadian yang dialaminya.
Gobang menyebut dugaan aksi serupa disebut pernah terjadi di kawasan tersebut. Ia berharap aparat kepolisian segera menindaklanjuti laporan terkait dugaan intimidasi dan pemerasan tersebut.
“Di situ itu sering kejadian kayak gitu, banyak juga ternyata orang yang mengalami hal serupa. Jangan sampai ini terus berlarut-larut dan makin banyak korbannya,” tegasnya.
Pihak keluarga dan rekan-rekan korban berencana melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian.
“Kami akan melaporkan kejadian ini juga ke pihak kepolisian, semoga ada tindak lanjut dari kepolisian,” pungkas Gobang.
Hingga berita ini ditulis, redaksi masih berupaya menggali informasi lebih lanjut atas peristiwa tersebut.

