TNGNEWS.ID – Sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Tangerang masuk dalam wilayah yang perlu diwaspadai terhadap potensi kekeringan. Kondisi tersebut terjadi karena curah hujan di sejumlah wilayah diperkirakan masih rendah.
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengatakan, informasi tersebut mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ia meminta para camat memperhatikan kondisi wilayah masing-masing seiring masih berlangsungnya musim kemarau.
“Kami meminta seluruh camat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan berdasarkan informasi dari BMKG,” ujar Maesyal.
Ke-12 kecamatan tersebut yakni Balaraja, Cisoka, Kresek, Kronjo, Mauk, Pakuhaji, Rajeg, Sepatan, Sindang Jaya, Sukadiri, Sukamulya, dan Teluknaga.
Menurut Maesyal, sejumlah wilayah, terutama di bagian utara Kabupaten Tangerang, diperkirakan mengalami curah hujan minim hingga akhir Oktober 2026.
Dalam peta prakiraan BMKG, wilayah tersebut ditandai sebagai daerah dengan potensi curah hujan rendah.
Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga bulan September 2026. Kondisi itu berpotensi menimbulkan sejumlah persoalan, salah satunya berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Khusus penanganan kekurangan air bersih, saya minta segera disiapkan Surat Keputusan Bupati tentang penanganan dampak El Nino,” katanya.
Selain persoalan air bersih, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan debu serta menyebabkan tanah mengalami kekeringan dan keretakan.
Pemerintah daerah meminta laporan dari kecamatan apabila mulai terjadi kekurangan pasokan air.
“Melalui sinergi ini diharapkan Kabupaten Tangerang tetap aman, kondusif, serta mampu menghadapi dampak musim kemarau secara optimal,” pungkasnya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah mengingatkan adanya potensi kebakaran akibat aktivitas pembakaran sampah maupun lahan selama musim kemarau.
Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan karena kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
“Kondisi kemarau membuat potensi kebakaran semakin tinggi. Saya minta para camat terus melakukan monitoring, khususnya di wilayah yang masih sering terjadi pembakaran liar seperti Sindang Jaya dan Rajeg,” ujarnya.

